RSS
Write some words about you and your blog here

Kamis, 24 Desember 2009

Kaitan Komunikasi Non Verbal dengan Kebudayaan

PENTINGNYA KOMUNIKASI NON VERBAL
Komunikasi nonverbal sebagai bentuk komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk mengadakan kontak dengan realitas lingkungannya, mempunyai persamaan komponen dengan komunikasi verbal, yakni sebagai berikut :
1.    Menggunakan sistem lambang atau simbol;
2.    Merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh individu manusia;
3.    Orang lain juga memberikan arti pada simbol yang dihasilkan tadi.

Berarti di sini telah terjadi suatu proses saling memberikan arti pada simbol-simbol yang disampaikan antara individu-individu yang berhubungan.

Komunikasi merupakan proses penggunaan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mendatangkan makna bagi orang atau orang-orang lain. Dari pengertian komunikasi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
Kelangsungan komunikasi tergantung pada macam-macam sistem tanda dan lambang yang digunakan.
Komunikasi dapat terjadi kalau makna simbol yang ada dalam diri seseorang juga mempunyai arti yang sama bagi orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Salah satu masalah yang paling sering terjadi dalam Komunikasi Antar Budaya adalah apabila terdapat perbedaan pemberian makna terhadap simbol.

Tanda dan simbol merupakan alat dan materi yang digunakan dalam interaksi.
Dalam komunikasi, pesan nonverbal yang berupa tanda dan simbol, memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, walaupun hal ini sering kali tidak kita disadari. Baik secara sadar maupun tidak sadar, dengan maksud maupun tidak dengan maksud, seseorang mengirim dan menerima pesan nonverbal. Bahkan seseorang membuat penilaian dan keputusan berdasarkan pesan nonverbal tersebut.  Pesan atau perilaku nonverbal menyatakan pada seseorang bagaimana menginterprestasikan pesan-pesan lain yang terkandung didalamnya.

Dalam komunikasi, pesan nonverbal yang berupa tanda dan simbol, memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, walaupun hal ini sering kali tidak kita disadari. Baik secara sadar maupun tidak sadar, dengan maksud maupun tidak dengan maksud, seseorang mengirim dan menerima pesan nonverbal. Bahkan seseorang membuat penilaian dan keputusan berdasarkan pesan nonverbal tersebut.  Pesan atau perilaku nonverbal menyatakan pada seseorang bagaimana menginterprestasikan pesan-pesan lain yang terkandung didalamnya.

Proses nonverbal yang ada dalam setiap negara di dunia dan di antara macam-macam kelompok dalam masing-masing negara. Pentingnya komunikasi nonverbal adalah sebagai berikut :
1. Menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.
Komunikasi nonverbal akan lebih mempertegas atau lebih memberikan makna mengenai komunikasi verbal yang terjadi.
2. Menyampaikan perasaan dan emosi lebih cermat.
Dengan melakukan komunikasi nonverbal maka kita dapat mengekspresikan emosi kita sehinggga lawan bicara kita mengeathui bagaimana emosi dan perasaan kita saat terjadinya komunikasi tesebut, yang akhirnya terjadi komunikasi yang efektif.
3. Menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi dan kerancuan
4. Berfungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi
5. Merupakan cara komunikasi yang lebih efisien.
Maksudnya bukan berarti bahwa komunikasi nonverbal lebih efisien dibandingkan dengan komunikasi verbal. Dalam melihat point ini harus juga dikaitkan dnegan situasi dan kondisi saat komunikasi itu terjadi.
Contoh : ketika di tengah kerumunan massa maka komunikasi nonverbal (dengan melambaikan tangan atau tepuk tangan) lebih efisien dibandingkan dnegan komunikasi verbal (missal teriak).
Merupakan sarana sugesti yang paling tepat

PENGERTIAN KOMUNIKASI NON VERBAL
Komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi nonverbal menggunakan tanda-tanda melalui tubuh, meliputi gerak tubuh, ekspresi muka, nada suara.
Contoh, ekspresi muka seseorang bisa membedakan apakah ia sedang marah, murung atau menghadapi ketakutan.

Bentuk-bentuk komunikasi nonverbal yang terjadi tidak harus hanya gerak tubuh saja tetapi bisa dilihat dari bentuk-bentuik komunikasi nonverbal yang lainnya seperti ekspresi muka atau nada suara.
Sehingga dapat dikatakan bahwa apabila terjadi komunikasi maka bisa saja bentuk-bentuk komunikasi nonverbal terjadi, bisa 1 bentuk saja atau lebih dari 1 bentuk komunikasi nonverbal.

Komunikasi nonverbal akan menunjang komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi nonverbal menggunakan tanda-tanda melalui tubuh, meliputi gerak tubuh, ekspresi muka, nada suara. Sebagai contoh, ekspresi muka seseorang bisa membedakan apakah ia sedang marah, murung atau menghadapi ketakutan. Bentuk-bentuk komunikasi nonverbal yang terjadi tidak harus hanya gerak tubuh saja tetapi bisa dilihat dari bentuk-bentuik komunikasi nonverbal yang lainnya seperti ekspresi muka atau nada suara.
Sehingga dapat dikatakan bahwa apabila terjadi komunikasi maka bisa saja bentuk-bentuk komunikasi nonverbal terjadi, bisa 1 bentuk saja atau lebih dari 1 bentuk komunikasi nonverbal.

CIRI-CIRI KOMUNIKASI NONVERBAL
1. Komunikatif

Perilaku nonverbal dalam suatu situasi interaksi selalu mengkomunikasikan sesuatu. Ini berlaku untuk semua bentuk komunikasi, khususnya untuk komunikasi nonverbal. Manusia tidak mungkin tidak bertingkah laku, dan karenanya, tidak mungkin tidak mengkomunikasikan sesuatu. Apa pun yang manusia lakukan atau tidak dilakukan, dan apakah tindak tanduknya disengaja atau tidak disengaja, perilaku nonverbal manusia mengkomunikasikan sesuatu. Selanjutnya, pesan-pesan ini bisa diterima secara sadar ataupun tak sadar. Duduk diam di sudut kelas dan membaca sebuah buku mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain sepasti verbalisasi. Memandang hampa ke luar jendela selama guru mengajar mengkomunikasikan isyarat kepada sang guru bahwa anda mengatakan “Saya jemu.” Tetapi, sadarilah perbedaan penting antara pernyataan nonverbal dan pernyataan verbal. Mahasiswa yang memandang keluar jendela ketika gurunya bertanya “Mengapa kamu jemu?” selalu dapat mengelak dengan mengatakan bahwa ia tiba-tiba tertarik oleh sesuatu di luar.

2. Kesamaan Perilaku
Satu cara yang sering digunakan untuk menyimpulkan apakah dua orang saling menyukai adalah kesamaan perilaku (behavioral synchrony). Istilah ini mengacu pada kesamaan perilaku nonverbal dua orang, yang mungkin mempunyai banyak bentuk. Salah satu mungkin meniru yang lain, atau kedua orang ini secara spontan berperilaku sama. Kita dapat melihat kesamaan perilaku dalam gerak-gerik tubuh secara umum serta gerakan tangan selain juga sikap-sikap yang lain (misalnya, dua orang duduk atau berdiri dengan cara yang sama, atau merokok dengan gaya yang bermiripan) dan pada suara (misalnya, dua orang yang sangat mirip dalam pola bicara, kekerasan suara, atau cara diamnya). Pada umumnya, kesamaan perilaku merupakan indeks dari rasa saling menyukai.

3. Komunikasi Artifaktual
Banyak pesan nonverbal dikomunikasikan melaui cara berpakaian dan artifak-artifak lain. Perhiasan, tata rias wajah, kancing, alat tulis yang digunakan, mobil yang dikendarai, rumah yang diami, perabot rumah yang dimiliki serta cara penataannya, besar dan lokasi kantor, dan nyatanya, hampir setiap benda yang berkaitan dengan manusia, juga mengkomunikasikan makna. Arloji Rolex dan Timex keduanya mungkin memberikan informasi tentang waktu yang sama dan benar, tetapi keduanya mengkomunikasikan hal yang berbeda tentang pemakainya.

4. Kontekstual
Seperti halnya komunikasi verbal, komunikasi nonverbal terjadi dalam suatu konteks (situasi, lingkungan), dan konteks tersebut membantu untuk menentukan makna dari setiap perilaku nonverbal. Perilaku nonverbal yang sama mungkin mengkomunikasikan makna yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Mengedipkan mata kepada seorang wanita cantik dalam bis kota mempunyai makna yang berbeda dengan mengedipkan mata di mejo poker. Begitu pula, makna perilaku nonverbal tertentu akan berbeda bergantung pada perilaku verbal yang menyertainya. Memukul meja dalam suatu pidato untuk menekankan hal tertentu sangat berbeda dengan memukul meja ketika mendengar berita kematian seseorang.

5. Paket
Perilaku nonverbal, apakah menggunakan tangan, mata, atau otot tubuh, biasanya terjadi dalam bentuk “paket”, atau tandan (cluster). Seringkali perilaku seperti ini saling memperkuat; masing-masing pada pokoknya mengkomunikasikan makna yang sama, Adakalanya, perilaku ini bertentangan satu sama lain.

Paket Nonverbal. Semua bagian tubuh biasanya bekerja bersama untuk mengkomunikasikan makna tertentu. Seseorang tidak menyatakan rasa takut dengan matanya sementara bagian tubuh yang lain bersikap santai seperti tidur. Sebaliknyalah, keseluruhan tubuh mengekspresikan emosi ini. Sebelum dapat menerka sembarang perilaku nonverbal, adalah perlu melihat keseluruhan paket atau tandan (cluster) di mana perilaku tersebut merupakan bagiannya. Perlu kiranya melihat bagaimana paket ini berkaitan dengan konteks tertentu dan bagaimana setiap perilaku spesifik dengan paket itu. Seorang gadis cantik yang mengedipkan mata ke arah seseorang mungkin mengisyaratkan undangan bagi orang tersebut; tetapi, jangan abaikan kemungkinan bahwa lensa kontaknya tidak terpasang dengan baik. Pada umumnya kita tidak banyak menaruh perhatian pada sifat paket dari komunikasi nonverbal, yang kelihatan begitu wajar sehingga berlalu begitu saja tanpda disadari. Tetapi, bila ada inkonsistensi, barulah kita memperhatikannya.

Paket Verbal dan Nonverbal
Komunikasi nonverbal juga terpaket dengan pesan verbal yang menyertainya. Bila seseorang menunjukkan rasa marah secara verbal, tubuh dan wajahnya menegang, dahinya berkerut, dan mungkin menunjukkan sikap sial berkelahi. Sekali lagi, kita seringkali tidak memperhatikan hal ini karena ini sepertinya wajar saja. Tetapi bila pesan nonverbal dari sosok atau wajah seseorang bertentangan dengan pesan verbalnya, kita menaruh perhatian khusus. Ambillah contoh, misalnya, seorang yang mengatakan, “Saya sangat senang berjumpa denganmu,” tetapi menghindari kontak mata langsung dan melihat-lihat ke sekelilingnya seakan-akan mencari orang lain. Orang ini mengirimkan pesan yang bertentangan.

6. Dapat dipercaya (Believeable)
Biasanya perilaku verbal dan nonverbal konsisten. Jadi, bila seseorang berdusta secara verbal, maka juga mencoba berdusta secara nonvebal. Namun demikian, baik perilaku verbal maupun nonverbal seseorang seringkali mengkhianati dirinya. Para periset perilaku nonverbal telah mengidentifikasi sejumlah perilaku yang seringkali menyertai penipuan (deception). Umumnya, seorang pembohong kurang banyak bergerak ketimbang orang yang mengatakan yang sebenarnya. Pembohong berbicara lebih lambat dan membuat lebih banyak kesalahan bicara. Indikator terbaik kebohongan. Jangan lupa bahwa baik perilaku nonverbal maupun verbal harus ditafsirkan sebagai bagian dari konteks tempat itu terjadi. Gunakanlah perilaku ini sebagai hipotesis mengenai kebohongan dan bukan sebagai kesimpulan yang kuat.Umumnya, seorang pembohong kurang banyak bergerak ketimbang orang yang mengatakan yang sebenarnya. Pembohong berbicara lebih lambat dan membuat lebih banyak kesalahan bicara. Indikator terbaik kebohongan. Jangan lupa bahwa baik perilaku nonverbal maupun verbal harus ditafsirkan sebagai bagian dari konteks tempat itu terjadi. Gunakanlah perilaku ini sebagai hipotesis mengenai kebohongan dan bukan sebagai kesimpulan yang kuat.

7. Dikendalikan oleh Aturan
Komunikasi nonverbal, seperti halnya komunikasi verbal, dikendalikan oleh aturan (rule-goverbed). Sebagai anak-anak, seseorang belajar kaidah-kaidah kepatutan sebagian besar melalui pengataman perilaku orang dewasa. Sebagai contoh, seseorang mempelajari bagaimana mengutarakan simpati serta aturan-aturan budaya mengenai mengapa, di mana, dan kapan mengutarakan simpati. Seseorang belajar bahwa menyentuh seseorang dibolehkan pada situasi tertentu tetapi tidak dibolehkan dalam situasi yang lain, dan belajar macam sentuhan apa yang boleh dan mana yang tidak.
Beberapa di antara aturan ini, yang dinyatakan lebih secara informal, mengatakan bahwa orang dari status yang lebih rendah tidak boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih tinggi, tetapi orang yang statusnya lebih tinggi boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih rendah. Aturan lain adalah bahwa kaum wanita boleh saling menyentuh sesamanya di depan umum. Sebagai contoh, mereka boleh saling memegang tangan, berjalan bergandengan tangan, saling berpelukan, dan bahkan berdansa bersama. Kaum pria tidak boleh melakukan ini, setidak‑tidaknya tanpa menghadapi kritik sosial.Seseorang belajar bahwa menyentuh seseorang dibolehkan pada situasi tertentu tetapi tidak dibolehkan dalam situasi yang lain, dan belajar macam sentuhan apa yang boleh dan mana yang tidak.
Beberapa di antara aturan ini, yang dinyatakan lebih secara informal, mengatakan bahwa orang dari status yang lebih rendah tidak boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih tinggi, tetapi orang yang statusnya lebih tinggi boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih rendah. Aturan lain adalah bahwa kaum wanita boleh saling menyentuh sesamanya di depan umum. Sebagai contoh, mereka boleh saling memegang tangan, berjalan bergandengan tangan, saling berpelukan, dan bahkan berdansa bersama. Kaum pria tidak boleh melakukan ini, setidak‑tidaknya tanpa menghadapi kritik sosial.

8. Metakomunikasi
Perilaku nonverbal seringkali bersifat metakomunikasi. Contoh yang jelas adalah menyilangkan jari di balik punggung bila berdusta. Bila membuat pernyataan dan mengedipkan mata, kedipan mata ini mengomentari pernyataan verbal itu. Pada hari pertama kuliah, dosen masuk ke kelas dan mengatakan sesuatu yang memberitahu bahwa ia adalah dosen untuk mata kuliah ini. la mulai menjelaskan bagaimana kuliah akan diselenggarakan, apa yang menjadi persyaratan, dan apa tujuannya. Tetapi, perhatikanlah bahwa banyak metakomunikasi juga berlangsung. Busana yang dikenakan dosen dan bagaimana ia mengenakannya, panjang dan gaya rambutnya, penampilan fisiknya secara umum, caranya berjalan, serta nada suaranya semua berkomunikasi tentang komunikasi, selain juga tentu saja, mengkomunikasikan dirinya sendiri. Berdasarkan petunjuk‑petunjuk ini, para mahasiswa akan sampai pada berbagai kesimpulan. Mereka mungkin menyimpulkan bahwa kelas ini akan menyenangkan, atau membosankan, atau terlalu tinggi, atau tidak relevan.


FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL

Ada lima fungsi komunikasi non verbal :
Mengulang (Repeating)

Mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya :
Saya menggelengkan kepala untuk mengulangi pesan verbal “Saya tidak mau.”
Saya menggerakkan kepala atau tangan untuk mengulangi pesan verbal “Ayo kita pergi.”

Melengkapi (Complementing)
Melengkapi pesan yang sudah dikomunikasikan secara verbal. Misalnya :
Saya tersenyum ketika menceritakan kisah lucu.
Saya menggelengkan kepala ketika menceritakan ketidakjujuran seseorang.

Mengganti (Substituting)
Menggantikan pesan verbal. Misalnya :
Saya menggelengkan kepala untuk menggantikan kata “tidak”.
Saya mengacungkan jempol untuk menggantikan kata “oke”.

Mengatur (Regulating)
Mengatur arus pesan verbal dengan menggunakan gerak-gerik nonverbal. Misalnya :
Saya mengangkat tangan untuk memperlihatkan bahwa saya belum selesai bicara.
Saya mengerutkan bibir untuk menunjukkan bahwa saya ingin mengatakan sesuatu.

Menunjukkan kontradiksi (Contradicting)
Mempertentangkan pesan verbal kita dengan gerakan nonverbal dengan sengaja. Misalnya :
Saya mencibirkan bibir saat memuji prestasi teman sambil berkata, “Kamu memang hebat”.
Saya menggaruk-garuk kepala saat menjawab pertanyaan guru mengapa saya tidak masuk sekolah, sambil berkata “Saya sakit, Bu.”

KETERBATASAN DALAM KOMUNIKASI NONVERBAL
Maksud dari keterbatasan adalah bahwa komunikasi nonverbal masih dapat dilakukan hanya saja dilakukannya tidak optimal karena adanya batasan-batasan atau kekurangan dari komunikasi nonverbal.

KETERBATASAN KOMUNIKASI NON VERBAL

1. Sifat AMBIGUITAS
Ada banyak kemungkinan penafsiran terhadap setiap perilaku nonverbal. Seseorang tidak bisa memastikan bahwa orang lain mengerti makna dari perilaku nonverbal yang disampaikannya. Hal ini bukan hanya disebabkan karena adanya perbedaan budaya tetapi karena komunikasi nonverbal itu sendiri juga kontekstual. Keambiguitasan ini terlihat dalam contoh sebagai berikut :
Misalnya seseorang menyentuh paha samping anda di lift. Hal ini bisa berarti suatu ketidaksengajaan atau bisa juga berarti suatu tindakan pelecehan seksual. Dalam setiap melakukan komunikasi nonverbal, seseorang harus memperhatikan sifat ambiguitasnya dalam berinteraksi.
Contoh : Kalau ada orang yang sakit parah dan dia tiba-tiba mengeluarkan air mata maka bisa saja terjadi diartikan ambigu yaitu di satu sisi dia sedih atau terharu.

2. Keterikatannya dalam suatu budaya tertentu
Perilaku-perilaku yang memiliki makna khusus dalam satu budaya, akan mengekspresikan pesan-pesan yang berbeda dalam ikatan budaya yang lain. Misalnya, dalam budaya Jawa, menatap mata orang yang lebih tua ketika sedang berbicara, dianggap tidak sopan. Padahal dalam budaya Barat, bila tidak menatap lawan bicara, maka dianggap tidak menghargai/tidak sopan.

3. Perbedaan pengertian/pemahaman
Misalnya orang Batak sedang makan bersama kumpulan orang Jawa. Orang Batak terbiasa mengakhiri makannya dengan bersendawa kencang untuk menunjukkan bahwa dia puas dengan makanan yang dihidangkan oleh orang Jawa tersebut. Bagi orang Jawa, perilaku tersebut malah dianggap kurang sopan dan tidak menghargai mereka. Hal ini tentunya akan membuat orang Batak tersebut merasa bersalah atas perilakunya, yang ternyata memiliki perbedaan pengertian atau pemahaman bagi orang Jawa.

4. Komunikasi nonverbal tidak dapat dilakukan di ruangan yang terisolasi
Bila seseorang terisolasi, maka orang lain tidak dapat menerima pesan nonverbal yang disampaikannya.
Maksud disini ruangan yang terisolasi adalah bahwa ruangan tersebut tertutup rapat sama sekali, tidak bisa melakukan kontak face to face sama sekali, yang bisa dilakukan hanya kontak dengan menggunakan media misalnya kentungan, ketok-ketok, hp, dll.

KOMUNIKASI NON VERBAL DAN KEBUDAYAAN
Hubungan antara komunikasi nonverbal dan kebudayaan sangat erat karena keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari segi ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Banyak perilaku nonverbal dipelajari secara kultural. Sebagaimana aspek verbal, komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu :
Kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator.
Kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran, perasaan, keadaan internal. Jadi walaupun perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan kapan, oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan.

Pengenalan dan pemahaman tentang pengaruh kebudayaan pada interaksi nonverbal merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam Komunikasi Antar Budaya, karena:
Dengan mengerti pola-pola dasar pengetahuan nonverbal dalam suatu kebudayaan, kita dapat mengetahui sikap-sikap dasar dari kebudayaan tersebut. Misalnya dengan memperhatikan tindak tanduk para pegawai pria Jepang dalam membuat pertemuan-pertemuan di restoran pada malam hari, seseorang dapat mempelajari sedikit tentang sikap mereka terhadap pekerjaan dan wanita.

Pola-pola perilaku nonverbal dapat memberikan informasi tentang sistem nilai suatu kebudayaan. Misalnya : tentang konsep waktu kebudayaan dengan orientasi pada “doing” (aktif melakukan sesuatu) seperti Amerika Serikat akan cenderung untuk menganggap situasi tanpa kata-kata sebagai membuang-buang waktu. Bagi kebudayaan dengan orientasi pada “being” (keberadaan), suasana hening dalam pembicaraan mempunyai nilai positif, karena penting untuk pemahaman diri dan kesadaran akan keadaan.
Pengetahuan tentang perilaku nonverbal dapat membantu untuk menekan rasa etnosentrisme. Misalnya : seseorang mungkin akan lebih memahami penggunaan jarak ruang oleh orang lain, jika orang tersebut sadar akan karakteristik-karakteristik kebudayaan yang mendasarinya, yang mencerminkan sesuatu tentang si pengguna dan kebudayaannya.

KLASIFIKASI KOMUNIKASI NON VERBAL
1. Body Behavior (Perilaku Badan)

General Appearance
Untuk memutuskan apakah akan memulai pembicaraan dengan orang lain, tidak jarang kita dipengaruhi oleh penampilan. Kadang-kadang kesimpulan tentang kecerdasan, status sosial, pekerjaan seseorang ditarik dari bagaimana ia menampilkan dirinya. Misalnya : cara berpakaian.

2. Body Movement (Gerakan badaniah) : Kinesics
Studi Kinesics mempelajari bagaimana isyarat-isyarat nonverbal baik yang sengaja maupun tidak, dapat mempengaruhi komunikasi. Misalnya : seseorang menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai orang lain dengan menghadapkan badannya pada orang lain, bukan dengan mengelak. Juga mencondongkan badannya kepada orang lain menandakan sikap positif kepadanya atau bisa juga sikap agresif.
Setiap budaya memiliki bahasa tubuhnya sendiri. Anak-anak menyerap nuansa-nuansanya bersama-sama bahasa ucap. Seorang Perancis berbicara dengan cara bahasa Perancis. Seorang Amerika menggerakkan tubuhnya dengan cara bahasa Amerika. Beberapa perbedaan kebudayaan mungkin dengan mudah dapat dikenali namun ada juga yang sukar. Laki-laki dan wanita menggunakan bahasa tubuh dengan cara-cara yang khas maskulin dan khas feminim. Latar belakang etnis, kelas sosial, gaya pribadi dan lain-lain, ini semua akan mempengaruhi bahasa tubuh kita. Setiap budaya memiliki bahasa tubuhnya sendiri. Anak-anak menyerap nuansa-nuansanya bersama-sama bahasa ucap. Seorang Perancis berbicara dengan cara bahasa Perancis. Seorang Amerika menggerakkan tubuhnya dengan cara bahasa Amerika. Beberapa perbedaan kebudayaan mungkin dengan mudah dapat dikenali namun ada juga yang sukar. Laki-laki dan wanita menggunakan bahasa tubuh dengan cara-cara yang khas maskulin dan khas feminim. Latar belakang etnis, kelas sosial, gaya pribadi dan lain-lain, ini semua akan mempengaruhi bahasa tubuh kita.

3. Facial Expressions (Ekspresi Wajah)
Wajah seseorang bisa mengkomunikasi apa yang sebenarnya dirasakan atau dibutuhkan. Seseorang bisa mengkomunikasikan rasa cintanya, ketakutan, kegembiraan, kesedihan melalui wajahnya, apakah itu melalui mata, bibir, atau dahi. Wajah merupakan tempat utama dalam mengekspresikan emosi seseorang. Ini dapat terlihat dari jenis dan intensitas perubahan wajah seseorang. Mata seseorang terutama sangat efektif untuk mengindikasikan perhatian dan minat, mempengaruhi orang lain, mengatur interaksi dan membuat dominasi. Area wajah seseorang (mata, alis, muka, mulut dan pipi) mungkin lebih mampu mengkomunikasikan secara nonverbal daripada bagian badan lainnya. Seseorang bisa mengkomunikasikan rasa cintanya, ketakutan, kegembiraan, kesedihan melalui wajahnya, apakah itu melalui mata, bibir, atau dahi. Wajah merupakan tempat utama dalam mengekspresikan emosi seseorang. Ini dapat terlihat dari jenis dan intensitas perubahan wajah seseorang. Mata seseorang terutama sangat efektif untuk mengindikasikan perhatian dan minat, mempengaruhi orang lain, mengatur interaksi dan membuat dominasi. Area wajah seseorang (mata, alis, muka, mulut dan pipi) mungkin lebih mampu mengkomunikasikan secara nonverbal daripada bagian badan lainnya.

4. Eye Contact (Kontak Mata) and Gaze (Gerakan mata)
Komunikasi seseorang dapat menggunakan tatapan matanya. Apakah ia marah, cinta, atau sedih dapat diketahui dari tatapan matanya. Seringkali tatapan mata tidak dapat membohongi. Orang dengan dapat mudah menangkap suasana hati lawan bicaranya dengan melihat tatapan matanya. Kontak mata sebagai simbol komunikasi nonverbal mempengaruhi perilaku, kepercayaan dalam berkomunikasi

Empat fungsi utama gerakan mata menurut Mark Knapp :
  1. Untuk memperoleh umpan balik dari seorang lawan bicaranya.
  2. Untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan tiba nya waktu untuk bicara.
  3. Sebagai signal untuk menyalurkan hubungan, dimana kontak mata akan meningkatkan frekuensi bagi orang yang saling memerlukan.
  4. Sebagai pengganti jarak fisik

5. Touch (Rabaan atau Sentuhan)
Kebudayaan mengajarkan pada anggota-anggotanya sejak kecil tentang siapa yang dapat diraba, bilamana dan di mana seseorang bisa diraba atau disentuh. Dalam banyak hal juga, kebudayaan mengajarkan bagaimana menafsirkan tindakan perabaan atau sentuhan.
Dalam hal berjabatan tangan juga ada variasi kebudayaannya. Di negara jerman orang berjabat tangan hampir pada setiap kali pertemuan, sehingga sedikit modifikasinya dari satu situasi ke situasi yang lain. Tetapi di AS, jabatan tangan lebih digunakan untuk menunjukkan perasaan, misalnya jabatan tangan yang kuat, lemah, atau sensual.
Setiap kebudayaan juga memberikan batasan pada bagian-bagian mana dari badan yang dapat disentuh, dan mana yang dapat diraba. Misalnya, di Indonesia umumnya, kepala dianggap badan yang terhormat, karenanya tidak sopan untuk disentuh atau disenggol oleh orang lain apalagi oleh orang yang belum dikenal.
Orang Arab sebaliknya, akan merasa sangat tersinggung bila bagian kedukannya dipegang, sedangkan kepala tidak apa-apa. Dalam banyak hal juga, kebudayaan mengajarkan bagaimana menafsirkan tindakan perabaan atau sentuhan.
Di negara jerman orang berjabat tangan hampir pada setiap kali pertemuan, sehingga sedikit modifikasinya dari satu situasi ke situasi yang lain. Tetapi di AS, jabatan tangan lebih digunakan untuk menunjukkan perasaan, misalnya jabatan tangan yang kuat, lemah, atau sensual.
Setiap kebudayaan juga memberikan batasan pada bagian-bagian mana dari badan yang dapat disentuh, dan mana yang dapat diraba. Misalnya, di Indonesia umumnya, kepala dianggap badan yang terhormat, karenanya tidak sopan untuk disentuh atau disenggol oleh orang lain apalagi oleh orang yang belum dikenal. Orang Arab sebaliknya, akan merasa sangat tersinggung bila bagian kedukannya dipegang, sedangkan kepala tidak apa-apa.

6. Smell (Penciuman)
Indera penciuman dapat berfungsi sebagai saluran untuk membangkitkan makna. Contoh yang melukiskan peranan penciuman dalam berbagai kebudayaan adalah sebagai berikut :
Di negara-negara yang penduduknya tidak terlalu banyak mengkonsumsi daging, ada anggapan bahwa orang-orang AS mengeluarkan bau yang tidak enak karena terlalu banyak makan daging. Persepsi mengenai bau memang berbeda antar satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Jika orang AS merupakan pencerminan dari kebudayaan yang anti bau, maka di beberapa negara Arab, prianya mengingingkan kaum wanitanya untuk mempunyai bau alam, yang dianggap sebagai perluasan dari pribadi individu.

7. Paralanguage
Paralanguage sesungguhnya termasuk dalam unsur-unsur linguistik, yaitu bagaimana atau cara sesuatu pesan diungkapkan dan bukan isi pesan itu sendiri. “Paralanguage” memberikan informasi mengenai informasi. Dalam bahasa tertulis antara lain penggunaan tanda-tanda, pengejaan, coretan, spasi antara kata, struktur kalimat, gaya penulisan, tulisan tangan, warna tinta. Semua itu dapat mempengaruhi reaksi atau penafsiran terhadap pesan.
Tingkat kerasnya suatu atau volume sering kali merupakan bagian dari gaya komunikasi suatu kebudayaan. Demikian juga dialek atau pola intonasi bahasa dapat menunjukkan karakteristik dari penduduk suatu daerah atau negara. Dalam Komunikasi Antar Budaya tidak sedikit terdapat kecenderungan untuk mengolok-olok pola-pola intonasi yang asing atau aneh. Bahkan sering terjadi bahwa dialek dapat menentukan sikap terhadap orang lain. Biasanya dialek yang lain dari apa yang dianggap sudah standar atau baku, akan memperoleh penilaian yang kurang.

8. Space and Distance (Ruang dan Jarak)
Cara kita menggunakan ruang jarak sering kali menyatakan kepada orang
lain sesuatu mengenai diri kita secara pribadi maupun kebudayaan. Aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang menentukan ruang jarak dipelajari sebagai bagian dari masing-masing kebudayaan.
Untuk ruang, tidak saja ruang dalam ari fisik tetapi juga beserta furnitirenya/perabotan di dalam ruangannya.
Contoh penggunaan ruang jarak di kantor-kantor :
Orang Amerika Serikat lebih suka ada meja yang membatasi dirinya dengan orang lain. Dalam kebudayaan lainnya seperti Amerika Latin atau Israel, meja dianggap membatasi komunikasi, sehingga orang berusaha untuk mendekati pihak yang diajak berbicara. Orang Amerika Serikat lebih suka membiarkan pintu kamar kerjanya terbuka dan kalau ditutup berarti ada suatu rahasia atau hal yang serius yang dibicarakan. Sedangkan orang Jerman biasa menutup pintu kamar kerjanya dan kalau ada yang membuka atau masuk tanpa permisi, dianggap sangat kurang ajar. Orang Indonesia belajar untuk membuat batas tembok dengan orang lain, yaitu dengan cara bicara dalam nada rendah atau diam. Kebiasaan ini bagi orang Amerika Serikat dapat dianggap sebagai “silent treatment” yang menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan sedang marah.

9. Time (Waktu)
Kebiasaan-kebiasaan bisa berbeda pada macam-macam kebudayaan dalam hal :
Persiapan berkomunikasi
Saat dimulainya komunikasi
Saat proses komunikasi berlangsung
Saat mengakhiri

10. Silence (Diam)
Diam bisa berarti juga sedang melakukan komunikasi. Seseorang dengan diam bisa saja ia mengkomunikasikan tidak ingin diganggu, atau sedang marah, sebel, benci, dan sebagainya. Dalam komunikasi di budaya Timur, diam bisa diartikan dengan beragam arti. Tanda-tanda nonverbal lainnya dapat memperkuat atau menjelaskan arti kondisi diam seseorang yang sebenarnya.

0 komen:

Poskan Komentar

Yuk tulis komen yuk... hwhwhw