RSS
Write some words about you and your blog here

Kamis, 24 Desember 2009

Persepsi

PENGERTIAN PERSEPSI
PERSEPSI adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih/menseleksi, mengorganisasikan, mengevaluasi dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita termasuk tingkah laku komunikasi. Persepsi dipengaruhi dan mempengaruhi budaya.

Masalah bisa muncul karena stimuli yang sama seringkali dipersepsikan secara lain oleh individu-individu dan kelompok-kelompok yang berbeda.

Contoh : seseorang dihadapkan pada keharusan makan daging babi, apakah akan terbit air liurnya atau sebaliknya malah muntah-muntah.

Perilakunya akan sangat tergantung pada seberapa mendalam ia telah menginternalisasikan nilai-nilai dan sikap-sikap yang telah diajarkan oleh kebudayaannya.

Jika demikian, maka pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana manusia membentuk persepsinya mengenai dunia luar dan bagaimana persepsinya itu mempengaruhi perilakunya ?

3 HAL YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
1. KEYAKINAN, NILAI, SIKAP

a. Keyakinan
Adalah satu anggapan bahwa satu objek/kejadian mempunyai karakteristik tertentu.
Adalah perkiraan secara subyektif bahwa suatu obyek atau peristiwa ada hubungannya dengan objek atau peristiwa lain.
Dalam keyakinan tidak ada yang benar atau salah.
Ada 3 macam keyakinan :
Keyakinan berdasarkan pengalaman (Experient belief)
keyakinan dapat terbentuk melalui pengalaman langsung.
Cont : menyentuh kompor panas --> meyakini peristiwa tersebut bahwa kompor dapat membakar jari-jari kita.
Keyakinan sedikit sekali kemungkinannya dipengaruhi oleh kebudayaan.
Cont : orang Eskimo tidak dapat diharapkan akan membentuk keyakinan pengalaman dengan onta.
Kebudayaan sangat mempengaruhi pembentukan keyakinan berdasarkan informasi dan pengambilan kesimpulan.
Melalui indra peraba, kita belajar untuk mengetahui dan kemudian meyakini bahwa objek atau peristiwa tertentu memiliki karakteristik tertentu.
Keyakinan berdasarkan informasi (Information belief)
keyakinan ini dibentuk melalui sumber-sumber luar seperti buku, majalah, orang lain, film, TV.
Sumber-sumber ini kita pilih karena keyakinan kita akan kebenarannya.
pembentukan keyakinan atas sumber-sumber ini karena otoritas (kewenangan ).
Latar belakang dan pengalaman kebudayaan sangat berperan dalam pembentukan keyakinan berdasarkan informasi.
Keyakinan berdasarkan penarikan kesimpulan (Inferensial belief)
keyakinan ini berkaitan dengan sistem logic/logika.
Pembentukannya dimulai dnegan pengamatan terhadap suatu tingkah laku atau peristiwa, kemudian perkiraan bahwa tingkah laku tersebut digerakkan atau disebabakan oleh suatu perasaan atau emosi tertentu.
Sistem logika intern berbeda antara satu individu dengan individu lain, tetapi perbedaan biasayanya lebih besar antara satu kebudayaan dnegan kebudayaan lain.

Keyakinan secara umum diartikan sebagai perkiraan secara subyektif bahwa sesuatu obyek atau peristiwa ada hubungannya dengan obyek atau peristiwa lain atau dnegan nilai, konsep, atribut tertentu. Singkatnya suatu obyek atau peristiwa diyakini memiliki karakteristik-karakteristik tertentu.

b. Nilai
Nilai merupakan aspek evaluatif dari sistem keyakinan, nilai dan sikap. Dimensi-dimensi evaluatif mencakup kualitas-kualitas seperti kegunaan, kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan dan pemberian kepuasaan.
Nilai bisa bersifat unik dan individual, tetapi ada pula yang cenderung untuk merasuk dalam suatu kebudayaan, yakni yang disebut nilai-nilai kebudayaan.
Nilai kebudayaan biasanya berakar dari falsafah dasar secara keseluruhan dari suatu kebudayaan. Nilai-nilai ini umumnya bersifat normatif karena memberikan informasi pada anggota kebudayan tentang apa yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang positif dan negatif, apa yang perlu diperjuangakan dan dilindungi, dll.
Nilai-nilai ini dipelajari dan tidak universal, dalam arti berbeda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
Nilai budaya dapat dikategorisasikan ke dalam tingkat-tingkat : primer, sekunder dan tertier. Atau dapat pula diklasifikasikan ke dalam : positif, negatif atau netral.

c. Sistem Sikap
Kepercayaan atau keyakinan serta nilai menyumbangkan pada atau melandasi perkembangan dan isi dari sistem sikap. Secara formal, sikap dirumuskan sebagai kecendrungan yang dipelajari untuk memberikan respons secara konsisten terhadap objek orientasi teretntu.

2. WORLD VIEW (PANDANGAN DUNIA)
Sebagai suatu konsep yang abstrak, sehingga sulit untuk mengidentifikasi secara jelas dalam suatu peristiwa antar budaya.
Adalah merupakan orientasi suatu kebudayaan terhadap hal-hal seperti Tuhan, manusia, alam semesta (dalam hal ini berkaitan dnegan konsep keberadaan /”being”).
Singkatnya, WV membantu menemukan tempat dan tingkat/level kita dalam alam semesta ini.

3. SOCIAL ORGANIZATIONAL
Organisasi sosial merupakan cara suatu kebudayaan mengatur diri dan pranata-pranatanya.

Ada 2 macam bentuk pengaturan soaila yang berkaitan dnegan komunikasi antar budaya :
a. Kebudayaan geografik yaitu negara, suku-bangsa, kasta, sekte keagamaan dan lain sebagianya yang dirumuskan berdasarkan batas-batas geografik.
b. Kebudayaan-kebudayaan peranan, yaitu keanggotaan dalam posisi-posisi soail yang jelas batasannya dan lebih spesifik, sehingga menghasilkan perilaku komunikasi yang khusus pula.

Beberapa unit-unit sosial yang dominan berpengaruh dalam sutau kebudayaan adalah keluarga, sekolah dan lembaga keagamaan. Institusi-institusi ini bertnaggung jawab dalam transmisi budaya dari satu generasi ke generasi lain dan pelestariannya. Kita semua merupakan anggota dari bermacam-macam institusi soail yaitu dari yang berjangka waktu lebih singkat seperti sekolah, sampai pekerjaan. Semua institusi ini mempunyai derajat pengaruh tertentu terhadap pembentukan diri dalam kebudayaan.


POKOK-POKOK PERSEPSI
Masing-masing individu mengadakan usaha untuk memahami lingkungan melalui pengembangan struktur, stabilitas dan makna bagi persepsinya.

1. STRUKTUR

Jika  kita menutup mata, memalingkan muka dan  kemudian membuka     mata,  kita akan langsung melihat  lingkungan  yang terstruktur dan terorganisir. Apa yang kita hadapi mempunyai ukuran,  bentuk, tekstur, warna, intensitas  dan  lain-lain. Bayangan  kita mengenai lingkungan merupakan hasil dari  ke-giatan kita secara aktif memproses informasi, yang  mencakup seleksi  dan kategorisasi input/masukan. Kita  mengembangkan kemampuan membentuk struktur ini dengan mempelajari  katego-risasi-kategorisasi untuk memilah-milah stimulasi eksternal. Kategorisasi untuk mengklasifikasi lingkungan ini  bisa lain-lain  dari orang ke orang. Kategorisasi ini  tergantung sada  sejarah pengalaman dan pengetahuan kita- Walaupun  ada beberapa  kategori yang sifatnya universal,  terutama  dalam comunitas  sosial tertentu. Misalnya : stimulan  fisik  yang akan ditranformasikan kedalam kategori "rumah", akan sangat berbeda antara orang Alaska dengan orang Arab yang tinggal di padang pasir.Obyek-obyek sosial dan fisik juga akan   mempunyai struktur berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan saat itu.Fungsi, misalnya, bisa. digunakan sebagai kategori. Dalam membeli pena, kita mempunyai kategori tertentu yang mencakup persyaratan khusus dalam warna, ukuran, bentuk, tinta, dan lain-lain. Tetapi kalau kita terburu-buru mau menulis, apapun yang kiranya dapat digunakan untuk menulis, bisa dimasukkan ke dalam kategori mempunyai fungsi sebagai alat menulis.

2. STABILITAS
Dunia persepsi kita yang terstruktur tadi mempunyai kelanggengan, dalam arti tidak selalu berubah-ubah. Melalui pengalaman, kita ketahui bahwa tinggi/besar seseorang tetap, walaupun ukuran dari bayangan yang terfokus
pada mata kita berubah dengan berubahnya jarak. Walaupun alat-alat  pancaindera kita sangat sensitif, kita rnampu untukecara intern menghaluskan perbedaan-perbedaan atau perubahan-perubahan dari input sehingga dunia luar nampak tetap/tidak berubah-ubah. Walaupun demikian, kita tidak dapat menghilangkan perbedaan-perbedaan/variasi-variasi yang terlalu besar; perbedaan-perbedaan sangat besar akan nampak dan jika stimulus demikian berubah, perubahan itu akan terperhatikan.

3. MAKNA
Persepsi bermakna dimungkinkan karena persepsi-persepsi terstruktur dan stabil tadi tidak terasingkan/terlepas satu sama lain, melainkan berhubungan setelah selang beberapa waktu. Jika tidak, maka setiap masukan yang sifatnya perseptual akan ditangkap sebagai sesuatu yang baru, kita akan selalu   berada dalam keadaan heran/terkejut/aneh dan tidak ada yang nampak familier bagi kita.

Makna berkembang dari pelajaran dan pengalaman kita masa lalu, di dalam kerangka kegiatan yang ada tujuannya. Kita be la jar untuk mengembangkan aturan-aturan bagi usaha atau tujuan yang ingin dicapai. Dengan aturan-aturan ini kita bertindak sebagai pemroses aktif dari stimulus. Kita mengkategorisasikan peristiwa-peristiwa dan menghubungkannyadengan peristiwa-peristiwa di masa lalu dan sekarang. Kita menjadi pemecah masalah yang aktif dalam usaha mencari makna dari lingkungan kita. Artinya, kita belajar untuk memberi makna pada persepsi-persepsi kita yang dianggap masuk akal jika dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, tindakan-tindakan dan tujuan-tujuan masa sekarang dan antisipasi kita tentang masa depan. Suatu hal yang pokok dalam makna ini ialah sistem kode bahasa. Dengan kemampuan bahasa, kita dapat menangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi nama dan merumuskan kategori-kategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik  pada  pengalaman-pengalaman,  kita  dapat mengingat,  memanipulasi dan membagi bersama  dengan  orang-orang  lain,  serta menghubungkan  mereka  pada  pengalaman-pengalaman lain melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu. Makna, karenanya, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan bahasa, dan tergantung pada penggunaan  kita  atas  kata-kata yang  dapat  member!  gambaran
secara tepat.

Dengan aturan-aturan ini kita bertindak sebagai pemroses aktif dari stimulus. Kita mengkategorisasikan peristiwa-peristiwa dan menghubungkannyadengan peristiwa-peristiwa di masa lalu dan sekarang. Kita menjadi pemecah masalah yang aktif dalam usaha mencari makna dari lingkungan kita. Artinya, kita belajar untuk memberi makna pada persepsi-persepsi kita yang dianggap masuk akal jika dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, tindakan-tindakan dan tujuan-tujuan masa sekarang dan antisipasi kita tentang masa depan. Suatu hal yang pokok dalam makna ini ialah sistem kode bahasa. Dengan kemampuan bahasa, kita dapat menangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi nama dan merumuskan kategori-kategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik  pada  pengalaman-pengalaman,  kita  dapat mengingat,  memanipulasi dan membagi bersama  dengan  orang-orang  lain,  serta menghubungkan  mereka  pada  pengalaman-pengalaman lain melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu.
Dengan kemampuan bahasa, kita dapat menangkap stimulasi eksternal dan menghasilkan makna dengan memberi nama dan merumuskan kategori-kategorinya. Dengan memberi kode secara linguistik  pada  pengalaman-pengalaman,  kita  dapat mengingat,  memanipulasi dan membagi bersama  dengan  orang-orang  lain,  serta menghubungkan  mereka  pada  pengalaman-pengalaman lain melalui penggunaan kata-kata yang mencerminkan pengalaman-pengalaman itu.

DIMENSI-DIMENSI PERSEPSI
1. Dimensi fisik (mengatur/mengorganisasi)
2. Dimensi psikologis (menafsirkan)
Kedua dimensi ini secara bersama-sama bertanggung jawab atas hasil-hasil  persepsi, sehingga pengertian  tentangnya  akan memberi gambaran tentang bagaimana persepsi terjadi.

1. Dimensi Persepsi secara fisik:
Sekalipun  dimensi  fisik ini merupakan  tahap  penting dari  persepsi,  tetapi untuk tujuan kita  mempelajari  KAB,hanya merupakan tahap permulaan dan tidak berapa perlu untuk terlalu didalami. Dimensi ini menggambarkan perolehan kita akan informasi tentang dunia luar. Tahap permulaan ini mencakup karakteristik-karakteristik stimulasi yang berupa energi, hakekat  dan fungsi mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga,  hidung, mulut dan kulit) serta transmisi data melalui sistem  syaraf menuju  otak,  untuk kemudian diubah ke  dalam  bentuk  yang bermakna. Bagaimana  bekerjanya badan manusia pada  tingkah/tahap ini dapat dikatakan sama antara orang dengan orang dan antara  satu kebudayaan dengan yang lain. Setiap orang pada  dasarnya  mempunyai mekanisme-mekanisme anatomik dan  biologikyang sama, yang menghubungkan mereka dengan lingkungannya.

2. Dimensi Persepsi secara Psikologis :
Dibandingkan   dengan penanganan stimuli  secara  fisik tadi, keadaan individual (kepribadian, kecerdasan, pendidikan, emosi, keyakinan, nilai, sikap, motivasi dan sebagainya) mempunyai  dampak yang jauh lebih menentukan  pada  persepsi tentang lingkungan dan perilaku- Dalam tahap inilah  manusia menciptakan  struktur, stabilitas dan makna  bagi  persepsi-persepsinya dan memberikan sifat yang pribadi serta penafsiran mengenai dunia luar.

1. SELECTIVE PERSEPTION
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita menerima begitu banyak pesan masukan/data/stimulasi. Misalnya : sambil membaca, selain data kata-kata yang terdapat dalam buku, data lain'berupa suhu ruangan, rasanya kursi yang diduduki,suara air menetes di kamar mandi, suara anak menangis, rasa permen yang dikunyah, bau rokok dan lain-lain juga menghujani kita. Semua data ini secara bersamaan menunggu untuk diproses, untuk diberi makna. Tetapi kemampuan manusia terbatas, sehingga terpaksa menseleksi beberapa saja di antaranya untuk diperhatikan dan mengabaikan yang lain. Dengan kata lain kita harus selektif. Seleksi ini biasanya dilakukan secara tidak sadar dalam waktu seperberapa detik saja. Keputusan yang kita ambil dalam menseleksi data yang akan diberi makna secara langsung berhubungan dengan kebudayaan kita. Selama hidup kita telah belajar, baik sebagai individu-individu maupun sebagai anggota-anggota dari kebudayaan tertentu, yang penting untuk diperhatikan. Ini yang disebut sebagai pengaruh kebudayaan pada hasil proses persepsi. Karena selektivitas ini merupakan bagian yang demikian penting dari persepsi, maka kita akan meninjau tiga cara yang saling berkaitan, dengan mana kita secara selektif mempersepsikan dunia sekeliling  

2. SELECTIVE EXPOSURE
Kita seringkali menghindar untuk mempersepsikan aspek-aspek tertentu dari lingkungan dengan cara tidak menempatkan diri dalam posisi yang memungkinkan untuk menghadapinya (selective non exposure). Demikian pula, kita bisa dengan secara sengaja mencari situasi-situasi yang memudahkan untuk mempersepsikan beberapa hal tertentu (selective exposure).
Contoh:
Orang-orang yang baru membeli mobil, cenderung membaca iklan mengenai mobil tersebut daripada ikian tentang mobil-mobil lain yang tadinya mau dibeli tapi tidak jadi. Mereka mencari informasi yang dapat member! penguatan atas keputusan mereka. Contoh penghindaran selektif bisa kita cari dari pengalaman sendiri. Jika kita dapat mengira-kira bahwa seseorang akan menimbulkan kesulitan atau situasi yang tidak enak bagi kita, maka sebelumnya kita lebih baik menghindar.

3. SELECTIVE ATTENTION
Pada saat tertentu dan pada lingkungan tertentu manapun, kita hanya dapat menaruh perhatian pada beberapa macam informasi saja, karena lingkungan terlalu luas dan kompleks bagi  kita untuk dapat memusatkan perhatian pada  segalanya. Meskipun  nampaknya  kita dapat  sekaligus  secara  simultan memperhatikan  banyak  hal, tetapi sesungguhnya  kita hanya dapat melakukannya secara sadar satu persatu. Apa yang  terjadi ialah kita dapat secara sangat cepat mengalihkan perhatian  pada  yang lain-lain. Kemampuan cepat  ini  memberikan gambaran palsu tentang perha'tian yang simultan.

4. SELECTIVE RETENTION
Beberapa informasi, walaupun telah dipersepsikan dan diproses, kemudian terlupakan, karena kita tidak dapat mempertahankan atau menyimpan semua. Pada umumnya, informasi yang kita simpan dalam ingatan adalah yang menyenangkan, menunjang bayangan-bayangan baik tentang diri sendiri, atau yang dirasakan perlunya untuk digunakan dibelakang hari.
Contoh : kita akan tetap mengenang orang-orang yang kita sukai/cintai/ada minat khusus.

0 komen:

Poskan Komentar

Yuk tulis komen yuk... hwhwhw